Pengertian Omset, Margins, dan Profit

Dikala mendengar kata “margins”, lazimnya yang langsung terbayang di benak orang-orang yakni komponen dari layout pada pengetikan aplikasi Microsoft Office. Tetapi dalam dunia bisnis, istilah margins memiliki arti yang berbeda. Apa itu margins menurut kacamata bisnis? Masyarakat biasa yang tak paham dapat jadi akan bingung saat diminta menjawab apa itu margins dalam dunia ekonomi dan bisnis.

Terlebih sederhana, margins yakni persentase profit yang diperoleh dari hasil penjualan suatu perusahaan. Lalu, apa perbedaannya dengan profit dan omset? Untuk mencari tahu jawabannya, yuk berkenalan dengan apa itu margins, apa arti margins, omset dan profit, hingga apa itu margins of error! Simak penjelasan lengkapnya di bawah berikut ini.

Apa Seperti Margins?

margins-1

Dalam dunia bisnis, margins yakni profit yang diperoleh dari hasil penjualan produk suatu usaha. Mengapa margins berbeda dari profit dan omset? Supaya lebih jelas, mari kita bahas terutama dulu apa arti margins hakekatnya. Apa yang dimaksud dengan margins? Margins yakni persentase dari profit yang diperoleh dari aktivitas penjualan produk milik suatu usaha. Jadi, kata kunci dari margins yakni persentase dari profit.

Tanamkan baik-baik bahwa margins yakni persentase profit dari tiap produk terjual milik suatu bisnis. Margins juga didefinisikan sebagai jumlah pendapatan bersih yang kemudian dibagi dengan total biaya pengeluaran untuk pelaksanaan penjualan. Berbeda dengan profit dan omset, besaran nilai margin selalu dikalikan 100% sebab seperti yang dibeberkan di awal, margin disebut dalam format persentase.

Jadi, sudah tahu jelas kan, apa itu margins? Nah, pemahaman ini semestinya dipegang oleh pemilik bisnis untuk menghindarkan kesalahan fatal dimana pebisnis tak dapat membedakan omset, profit dan margin. Masih banyak terjadi kasus di mana pebisnis menyamakan profit yang mereka dapatkan atau tertukar antara satu istilah dengan yang lain.

Situasi ini jelas berbahaya. Bayangkan bila Anda mengira sudah mendapatkan profit (profit bersih), padahal hakekatnya yang baru Anda raih yakni omset (total pemasukan seluruhnya). Dapat jadi Anda justru menggunakan omset untuk keperluan konsumtif. Waduh, bahaya banget, kan!

Perbedaan Margins, Omset dan Keuntungan

margins-2

Margins, Omset dan Keuntungan sama-sama yakni istilah terkait profit perusahaan. Memahami perbedaan omset, margins dan profit akan sangat membantu Anda dalam mengelola aktivitas penjualan serta pemasukan perusahaan. Seketika, apa perbedaan di antara ketiganya?

Pengertian Omset

Omset yakni total pendapatan sebelum dikurangi dengan biaya pengeluaran perusahaan. Omset juga dikenal dengan pendapatan kotor usaha. Omset perusahaan lazimnya dihitung total dalam kurun waktu atau periode tertentu. Periode omset dapat harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan.

Umumnya, meraih omset sebesar-besarnya yakni tujuan dari mayoritas pebisnis. Hal ini dikarenakan kian besar omset yang diterima oleh perusahaan, maka akan kian besar profit yang ia dapat. Metode terbaik untuk meningkatkan omset perusahaan dengan meningkatkan jumlah penjualan produk lewat metode promosi yang efektif. Ingat, kian banyak produk yang laku terjual di pasar, maka omset perusahaan yang diterima pun akan kian meningkat.

Pengertian Keuntungan

Keuntungan yakni profit bersih usaha dalam kurun waktu tertentu. Berbeda dengan omset, besaran profit sudah bebas dari biaya yang diperlukan untuk modal produksi dan penjualan. Oleh karena itu, uang profit perusahaan dapat Anda gunakan untuk memenuhi keperluan konsumtif sehari-hari.

Metode terbaik untuk mendapatkan profit yang maksimal yakni dengan memperbesar margins profit sekalian menghemat biaya produksi. Kian banyak produk yang laku dengan biaya produksi kecil dapat membawa profit berlipat untuk usaha. Kecuali itu, Anda dapat meningkatkan kualitas dan nilai produk. Sebab lazimnya, konsumen cenderung dan lebih suka membeli produk berkualitas baik.

Lalu bagaimana metode menghitung profit? Caranya mudah sekali! Anda cukup mengurangkan omset dengan biaya yang diperlukan perusahaan untuk melaksanakan aktivitas produksi dan penjualan. Lazimnya, terdapat dua ragam biaya yang muncul dalam aktivitas penjualan. Tarif tersebut yakni:

Fixed Cost (Tarif Konsisten)

Fixed cost atau biaya konsisten yakni biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan secara berkala. Pengeluaran ini akan konsisten ada, dan tak dipengaruhi oleh kondisi aktivitas produksi.

Contoh fixed cost yakni gaji karyawan. Sekiranya perusahaan Anda memiliki karyawan, mau tak mau Anda harus memberikan mereka gaji konsisten di tiap bulannya tanpa mengamati apakah aktivitas produksi di bulan itu berjalan dengan baik atau buruk.

Variable Cost (Tarif Variabel)

Macam pengeluaran kedua yakni variable cost. Berbeda dengan biaya konsisten yang bersifat pasti dari segi waktu dan besaran, biaya variabel bersifat tergantung pada kondisi perusahaan kala itu.

Semisal, produksi perusahaan Anda sedang meningkat tajam dikarenakan tingginya permintaan pasar untuk produk. Otomatis, biaya produksi pun akan meningkat dan dapat melebihi pengeluaran produksi di bulan sebelumnya. Seperti pula saat produksi perusahaan menurun. Adapun contoh dari variable cost yakni biaya listrik, air dan bahan baku.

Keuntungan bersih perusahaan dapat Anda hitung dengan rumus = total omset – biaya pengeluaran (fixed cost + variable cost).

Pengertian Margins

Istilah ketiga yakni margins. Margins yakni persentase profit dari tiap produk yang laku terjual. Umumnya, pebisnis akan berusaha untuk mendapatkan margins sebanyak mungkin. Oleh sebab itu, margins lah yang berperan dalam penentuan harga barang di pasaran. Lazimnya, harga produk akan kian mahal kalau margin yang diaplikasikan oleh si pemilik bisnis kian besar.

Di sini, Anda harus pandai dalam memperkirakan harga produk dan margins agar tak terlalu mahal atau sebaliknya. Produk dengan harga terlalu mahal tentunya akan susah dijual. Apalagi sekiranya terdapat produk serupa dengan harga yang lebih murah dan terjangkau. Otomatis, pelanggan akan lebih memilih berbelanja di toko yang produknya lebih murah. Perhitungkan matang-matang berapa margins yang dapat Anda terapkan sesuai dengan keunggulan produk.

Anda sudah melihat perbedaan definisi dari masing-masing omset, profit dan margins. Untuk menambah wawasan Anda, berikut ini saya sajikan contoh perhitungan dari omset, profit dan margins pada penjualan suatu produk.

Sebuah perusahaan mobil di bulan Mei 2020 laku memasarkan 2000 unit mobil baru seharga Rp65.000.000- per unit. Perusahaan tersebut mengeluarkan biaya pemasaran dan produksi sebesar Rp44.500.000. Jadi, perhitungan omset, profit dan bisnis yakni:

Omset : 2000 x Rp65.000.000 = Rp130.000.000.000

Keuntungan : Rp65.000.000 – Rp44.500.000 = Rp20.500.000 per unit.

Margin : Rp20.500.000 : Rp44.500.000 x 100% = 46%

Apa Seperti Margins of Error?

Pembahasan terakhir yakni margins of error. Margins of error yakni batas kesalahan yang dapat diterima dalam suatu perhitungan. Lazimnya, margins of error diaplikasikan dalam perhitungan survey. Tetapi batas kesalahan ini juga dapat diterapkan dalam perhitungan profit ekonomi. Tujuannya agar Anda dapat menentukan batasan margin yang paling tepat untuk diterapkan pada perhitungan profit.

Kadangkala, Anda tak dapat langsung mendapatkan besaran persentase margin yang sesuai untuk produk. Dapat jadi, margin yang Anda gunakan terlalu tinggi sehingga harga produk terlalu mahal ataupun sebaliknya. Jadi, sebelum terburu-buru menetapkan profit yang dapat diraih per produk, sebaiknya Anda melaksanakan riset terutama dulu.

Itulah dia pembahasan lengkap apa itu margins, omset dan error hingga apa itu margins of error. Kini Anda sudah paham, apa itu margins? Semoga tulisan ini berguna memperluas wawasan Anda, ya!