5 Teknologi Yang Terinspirasi Dari Tumbuhan

Apa teknologi yang terinspirasi dari tumbuhan yang telah kamu ketahui? Rupanya sampai kini telah tercatat ada cukup banyak teknologi-teknologi yang inovasinya terinspirasi oleh tumbuhan, khususnya struktur jaringan tumbuhan.

Teknologi yang dimaksud bukan hanya berkutat pada mesin saja. Tetapi juga beberapa alat terapan yang bersifat seperti pesawat sederhana. Jadi alat-alat ini akan bisa menolong manusia dalam mempermudah pekerjaan mereka.

Teknologi memang sewajarnya terus berkembang tiap ketika, hal ini berkesinambungan dengan kecerdasan manusia yang juga meningkat. Semakin banyaknya teknologi yang telah rilis dan diproduksi, semakin gampang pula kesibukan manusia.

Rasa keingintahuan para peneliti pun juga semakin besar di samping keuntungan yang didapat dengan memproduksi sebuah teknologi. Dengan hal ini, bermacam inspirasi bisa mereka dapatkan dari mana saja. Siapa yang menyangka sebelumnya kalau tumbuhan bisa memberikan sebuah penemuan bagi para peneliti untuk membuat sebuah teknologi?

Pada tulisan kali ini kami akan membahas apa saja teknologi yang terinspirasi dari tumbuhan. Berikut ialah 5 teknologi yang dimaksud, dimana tentu ada ahli dan ilmuan yang terlibat dalam proses pembuatannya.

Teknologi yang Terinspirasi dari Tumbuhan : Velcro

Apabila kamu belum begitu tahu, velcro ialah nama lain dari perekat. Ya, perekat yang biasa ditempelkan pada kain, topi, dan material lain yang digunakan untuk merekatkan. Velcro dipasang secara berlawanan pada kulit, karena untuk menyatukan dua kain yang arahnya berbeda.

Hal dari tumbuhan apa yang menginspirasi manusia memproduksi sebuah velcro? Rupanya, velcro ini telah dibuat sejak waktu yang silam dengan terinspirasi oleh duri tumbuhan. Masih ingatkah kamu bagaimana tekstur velcro itu sendiri?

Di sisi lain berupa duri-duri yang cukup tajam sedangkan sisi lainnya berupa material halus. Dua tekstur material berbeda ini bisa bekerja berkesinambungan dan bisa saling melekat.

Velcro bisa ditempelkan di dipisahkan. Saat dipisahkan, velcro akan mengeluarkan bunyi keras yang betul-betul khas.  Lalu bagaimana bisa velcro ini terinspirasi oleh duri tumbuhan? Dan bagaimana filosofinya? Tak perlu khawatir karena kamu juga akan mengetahuinya.

Teknologi yang berupa perekat tempel-pisah ini tadinya terinspirasi oleh suatu keadaan dimana duri tumbuhan menempel pada bulu anjing. Sama halnya dengan velcro itu sendiri bukan? Di sisi lain berupa duri dan di sisi lain berupa benang permukaan halus.

Dialah seorang insinyur listrik bernama George de Mestral yang mendapatkan inspirasi membuat teknologi ini. Saat itu George de Mestral telah menemukan velcro pada tahun 1948. Tak langsung dipatenkan, George de Mestral wajib menunggu hingga 1955 untuk dipatenkannya teknologi yang dibuatnya.

Apa yang membuat George de Mestral ini terinspirasi oleh duri dan bulu anjing? Pada tahun 1941 silam, ia sedang meneliti sebuah duri-duri yang menempel pada pakaian dan rambut. Hal ini diamati menggunakan mikroskop.

Velcro sendiri berasal dari kata velours yang artinya beludru dan crochet yang artinya kait. Dua istilah ini diambil dari Bahasa Perancis. Saat ini, hampir seluruh produk fashion menggunakan velcro.

Banyak nama lain dari velcro di bermacam daerah, misalnya keretan atau kretekan. Intinya, memang velcro bisa menimbulkan bunyi “kretek” ketika dilepas antara satu sisi dengan sisi lainnya.

Meskipun tampak sederhana, proses pembuatan velcro di permulaan inisiatif ilmuwan George de Mestral memang tidak gampang. George de Mestral menggunakan bermacam bahan yang mempunyai sifat bisa melekat secara sempurna antara satu sisi dengan sisi lainnya. Hal ini penting mengingat fungsi utama velcro ialah untuk melekatkan dua sisi.

Lalu, pada alat apa saja velcro biasa ditemukan? Yang pertama ialah sepatu tanpa tali. Sepatu tanpa tali selalu direkatkan dengan dua bagian, antara magnet atau velcro. Sepatu jeni ini memang mempunyai sisi kerekatan sendiri sehingga cocok digunakan oleh anak-anak.

Selain pada sepatu, baju dan tas juga banyak yang menggunakan velcro. Malah ketika ini banyak juga media pembelajaran yang memakai bahan velcro untuk anak-anak hingga Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) macam autisme untuk pembelajaran Picture Exchange Communication System (PECS).

Caranya ialah dengan melekatkan gambar-gambar dengan velcro yang kasar. Lalu di papan flanel atau yang telah ditempeli oleh velcro halus gambar hal yang demikian digunakan untuk berkomunikasi. Anak autis akan bisa menyamakan gambar, menyampaikan perasaan dan mengetahui jadwal dengan bantuan velcro pada media pembelajarannya. Sangat bermanfaat bukan?

Teknologi yang Terinspirasi dari Tumbuhan : Pemurni Udara Andrea

Fungsi utama tumbuhan yang betul-betul menolong manusia ialah sanggup menjernihkan atau membersihkan udara sehingga lebih aman dihirup oleh manusia. Fungsi inilah yang membuat manusia berbondong-bondong menanam pohon atau tumbuhan, baik itu di jalanan kota, taman, bahkan ditaruh di dalam ruangan.

Meskipun tumbuhan telah diciptakan dengan fungsi yang sedemikian rupa, tetapi tetap saja manusia sanggup berinovasi untuk membuat sebuah teknologi yang semakin membuat manusia nyaman.

Teknologi terapan ini ialah sebuah alat yang sanggup mempercepat performa tanaman bernama Andrea Air Purifier. Tidak sia-sia untuk diproduksi, fungsi dari teknologi ini sama dengan fungsi tumbuhan, hanya saja prosesnya menjadi lebih cepat.

Teknologi yang terinspirasi dari tumbuhan ini bersifat sederhana namun impactnya luar biasa. Ya, dengan pemurni udara Andrea orang bisa menaruh tumbuhan di dalam ruangan dengan mengambil manfaat yang lebih.

Cara menggunakan pemurni udara Andrea ini sangatlah gampang, setelah mendapatkannya kamu hanya tinggal menaruh tanaman di dalamnya. Malah, tanaman yang dipilih pun bisa bebas, tanaman apa saja bisa.

Tanaman yang ditaruh di dalam pemurni udara Andrea ini akan bekerja seperti biasa. Yaitu mengolah udara yang buruk untuk menjadi udara yang lebih bersih, dan teknologi ini akan mempercepat prosesnya.

Pemurni Udara Andrea didesain seperti toples makanan yang mana nantinya udara yang terisi bakteri dan virus akan menempel pada sisi atas, setelah diolah oleh tumbuhan yang ada didalamnya, udara bersih akan segera dikeluarkan melalui bagian bawah teknologi ini.

Adanya kipas yang ditaruh di bagian bawah membuat udara bersih bisa cepat keluar dan segera terdistribusikan. Menarik bukan? Teknologi yang telah terinspirasi dari tumbuhan ini memang sanggup bekerja secara luar biasa dan memberikan manfaat yang tak main-main.

Intinya, udara memang merupakan suatu hal yang primer bagi kehidupan manusia. Apabila alat ini diproduksi secara massal, maka akan banyak keuntungan bisa diperoleh.

Organ manusia betul-betul dipengaruhi dengan murninya udara. Mengapa demikian? Karena dengan meningkatnya kadar oksigen di dalam tubuh maka sel-sel organ akan bisa memperoleh makanan yang komplit. Bukan hanya itu, metabolisme juga akan semakin lancar.

Oleh karenanya, betul-betul disarankan bagi pihak-pihak yang mempunyai kewenangan untuk membuat alat ini dalam memperbanyaknya. Jadi, kedepan akan banyak titik yang difiltrasi udaranya secara maksimal.

Hal ini akan menolong dalam mengurangi polusi udara juga. Karena dengan adanya mesin penyaring udara maka akan bisa memaksimalkan jumlah udara bersih yang mengandung oksigen di bermacam tempat.

Teknologi yang Terinspirasi dari Tumbuhan : Biophotovoltaic Moss Table

Sesaat setelah mendengar nama teknologi ini, bisakah kamu menebak seperti apa wujud dan fungsi teknologi ini? Pastinya akan sulit untuk menebaknya bukan? Tetapi kita diberi kata kunci table yang mana bisa kita artikan sebagai teknologi yang berwujud sebuah meja.

Teknologi yang mengusung tema bioelektrik ini juga sama pentingnya dengan beberapa teknologi yang terinspirasi dari tumbuhan sebelumnya. Teknologi bioelektrik pada Biophotovoltaic Moss Table sanggup mengubah senyawa kimia yang dihasilkan dari fotosintesis menjadi tenaga listrik.

Ya, proses fotosintesis memang menghasilkan udara yang bersih seperti oksigen. Namun juga menghasilkan bermacam senyawa kimia yang penting untuk tumbuhan itu sendiri.

Tanpa membuat tanaman rusak atau mati, Biophotovoltaic Moss Table sanggup memanfaatkan tenaga kimia yang dihasilkan proses fotosintesis ini menjadi sebuah tenaga listrik yang cukup untuk mengisi tenaga listrik pada alat kecil, misalnya jam komputerisasi.

Berwujud seperti meja, tanaman akan ditaruh di atasnya dan teknologi ini bisa langsung bekerja. Namun demikian, tidak seluruh macam tanaman bisa ditumpangkan ke Biophotovoltaic Moss Table.

Teknologi ini juga tak serta merta berupa alat, dibutuhkan alga seperti cyanobacteria serta tumbuhan dengan vaskular yang bisa membuat teknologi ini bekerja.

Peneliti telah memprediksi bahwa di masa depan penggunaan teknologi ini akan semakin besar dan tersebar di dunia. Sehingga diprediksi pula produksi dari Biophotovoltaic Moss Table akan meningkat.

Dengan adanya penemuan ini, maka jumlah tenaga yang terbarukan akan bisa meningkat. Saat ini kita ketahui bahwa jumlah sumber tenaga yang tak terbarukan makin menipis di Indonesia. Jadi, tenaga alternatif ini betul-betul bisa menolong banyak orang untuk bisa bekerja secara maksimal.

Tanpa adanya tenaga alternatif, maka akan timbul bermacam masalah baru. Selain kehabisan sumber daya, banyak orang akan merasakan efek samping berupa limbah dan polusi dari hasil pembakaran baik secara personal maupun ketika mesin-mesin berbahan bakar dimanfaatkan pabrik.

Inilah yang kerap menjadi masalah dari negara-negara maju di dunia. Jadi, dengan adanya Biophotovoltaic Moss Table maka jumlah tumbuhan bisa diperbanyak dan tenaga listrik bisa diperbanyak dari bermacam alternatif.

Teknologi yang Terinspirasi dari Tumbuhan : Electree

Electee ialah teknologi yang berupa charger tenaga surya yang juga terinspirasi oleh tumbuhan, tepatnya pohon bonsai. Ya, Electree berbentuk seperti pohon bonsai, hanya saja benda ini ialah sebuah teknologi yang juga mempermudah kesibukan manusia.

Lalu bagian mana dari pohon bonsai tepatnya yang menginspirasi peneliti akan teknologi ini? Jawabannya ialah pada bentuknya. Berbentuk mirip dengan pohon bonsai, tetapi Electree ini terinspirasi juga oleh proses fotosintesis pada tumbuhan.

Sama halnya dengan Biophotovoltaic Moss Table yang juga terinspirasi oleh proses fotosintesis. Kalau kamu bertanya siapa yang menemukan penemuan ini, jawabannya ialah Vivien Muller.

Vivien telah mendesain teknologi ini dengan sebanyak 27 daun sel surya. Setiap daun sel surya yang ada dibekali dengan amorphous-silicon dengan kualitas tinggi guna menghasilkan manfaat dari teknologi ini sendiri.

Ukuran masing-masing daun pada Electree ialah 3,7 inci persegi, atau sekitar sepuluh sentimeter. Karena didesain mirip dengan pohon bonsai, daun-daun yang berupa sel surya ini dibuat menjulur ke atas atau vertikal dengan sebuah lengkungan kecil di tiap dahannya.

Apakah kamu juga bertanya-tanya jumlah kapasitas dari Electree ini? Tentu kamu juga akan mengetahuinya. Dalam satu paket Electree, ada sebanyak 14.000 mAh tenaga yang bisa disimpan. Menarik bukan? Jumlah tenaga ini cukup untuk mengisi penuh handphone iPhone 5.

Jumlah tenaga  hal yang demikian juga penuh untuk mengisi daya handphone iPhone 5 tak hanya sekali, melainkan sembilan kali.  Karena bersangkutan dengan pengecharge-an handphone, maka Electree dibekali dengan perangkat lain berupa port USB.

Ada sebanyak dua port USB yang bisa untuk seluruh macam slot smartphone. Beberapa smartphone canggih masa kini bisa menambahkan fitur wireless charging, dan hal ini bisa terjawab telah oleh Electree.

Electree juga memberikan fitur wireless charging bagi smartphone yang juga mendorong fitur ini. Kedepannya, alat yang terinspirasi dari tanaman ini diinginkan bisa digunakan pula pada mobil listrik.

Namun, tentunya dibutuhkan tenaga ekstra dengan tenaga listrik yang besar untuk mengisi daya dari alat-alat rumah tangga bahkan mobil listrik. Dengan adanya Electree, maka penemuan ini juga akan bisa semakin menolong peradaban serta mobilitas manusia.

Di era komputerisasi seperti ketika ini, banyak orang yang membutuhkan alat-alat portable. Karena Electree ialah salah satu alat yang ukurannya tidak terlalu berat, maka tentu alat ini betul-betul bisa digunakan untuk bermacam kebutuhan.

Teknologi yang Terinspirasi dari Tumbuhan : Teater Esplanade

Sampai sejauh ini, teater apa yang membuat kamu kagum karena bentuknya? Keong Emas di Jakarta atau justru teater lain di luar negeri? Sebuah gedung teater biasa berbentuk basic, namun tak berlaku di Teater Esplanade.

Teater Esplanade ialah salah satu teater yang bentuknya terinspirasi oleh buah durian. Terdengar unik bukan? Lalu, apakah kamu telah membayangkan bagaimana format dari gedung yang desainnya mengadaptasi dari buah berduri hal yang demikian?

Teater yang didesain seperti buah durian ini berada di negara tetangga kita, yaitu Singapura. Sengaja didirikan di tepi laut Marina Bay dan tepi sungai. Bangunan yang berdiri di atas lahan seluar enam hektar ini dibangun dengan tujuan sebagai pertunjukan seni bagi negara itu sendiri.

Teater Esplanade telah dibangun oleh dua firma yang berbeda yang mana berbasis MWP (London Michael Wild Ford & Partners). Tak serta merta biasa disebut-sebut sebagai Teater Esplanade, bahkan banyak juga yang menyebut bangunan ini sebagai Shell Durian, terkadang juga disebut sebagai The Big Durian.

Mengapa durian menjadi salah satu inspirasi dari pembangunan gedung teater hal yang demikian? Usut punya usut, ternyata durian mempunyai kulit yang tebal dan format yang seandainya dikonversikan ke dalam desain gedung maka akan bisa memaksimalkan suara.

Sama halnya seperti gedung di Sydney yang bentuknya menyerupai hewan, gedung yang menyerupai tumbuhan ini juga didesain secara fungsional. Banyak nilai fungsional yang dimiliki oleh bangunan yang satu ini.

Meskipun demikian, karena bentuknya unik maka tidak menutup kemungkinan gedung hal yang demikian juga betul-betul bermanfaat untuk wisata. Karena tentu banyak orang yang ingin tahu bagaimana format gedung yang menyerupai durian. Meskipun mungkin mereka tidak tahu banyak perihal pertunjukan teater.

Jadi, apakah kamu beratensi untuk pergi ke sana? Apabila ya, maka jangan lupa untuk mengabadikan momen hal yang demikian dalam sebuah foto. Karena, tiap teknologi tentu selalu berkembang dan dalam beberapa tahun ke depan ada kemungkinan gedung hal yang demikian bisa direnovasi hingga nilai fungsionalnya pun semakin meningkat.

Teknologi yang terinspirasi dari tumbuhan ini tak hanya menawarkan konsep eksterior yang seperti buah durian. Apabila masuk ke dalamnya akan banyak ditemui bermacam fasilitas yang komplit dan profesional. kamu bisa menemukan ruang seni, tempat pertemuan, hingga ruang gaya hidup yang juga menarik.